Penjaga Kuliner Nusantara

Masakan khas Indonesia disusun secantik dan semenarik mungkin dalam penyajiannya (Foto:Dok.nusagastronomy.com)

Jakarta: Keragaman seni, tradisi, dan budaya di Indonesia menginsipirasi siapa saja untuk membuat sesuatu yang unik, termasuk di bidang kuliner. Bahan dan cara masak yang beragam, membuat cita rasa masakan Indonesia kian variatif.

Menyajikan masakan Indonesia yang unik dan variatif dilakukan oleh Chef Ragil, pemilik restoran dengan nama NUSA Indonesian Gastronomy. Restoran ini mengusung masakan-masakan khas Indonesia yang disusun secantik dan semenarik mungkin dalam penyajiannya.

Salah satu chef terbaik di Asia ini ingin menunjukkan kecintaan terhadap makanan khas Indonesia yang disusun sesuai kreativitasnya sendiri. Menurutnya, makanan khas Indonesia sangat indah bila disajikan dengan kreativitas yang unik.

Indonesia juga punya Dade Akbar, chef yang mengabadikan foto-foto makanan khas Indonesia ke website digital bernama Warteg Gourmet. Lelaki kelahiran 1984 ini memiliki ide mempercantik makanan warteg pinggiran menjadi lebih menarik dan terlihat berkelas. Dengan adanya Warteg Gourmet, makanan warteg terlihat lebih berkelas.

Selanjutnya ada Billy Kalangi. Chef yang telah melalangbuana hingga ke Eropa ini menciptakan sebuah buku resep yang menggugah selera tentang masakan khas Indonesia. Buku resep karyanya telah dijual hingga keluar negeri, seperti Tiongkok dan Rusia.

Chef yang pernah memenangkan lomba masakan khas tradisional daerah di negara Paris ini ingin mengabadikan secara detail mengenai bahan dan resep makanan Indonesia. Menurutnya, makanan Indonesia memiliki keragaman rasa dan unik.

Jangan lewatkan betapa menariknya menu Indonesia di tangan para chef tersebut pada progam IDEnesia yang tayang di Metro TV, 14 Oktober 2018, pukul 21.30 WIB.

(ROS)

Resep Bebek Betutu ala Bali

Ada teknik khusus yang membuat daging ayam dan bebek menjadi empuk. (Foto: Courtesy of Photobucket.com)

Jakarta: Ayam atau bebek betutu merupakan makanan khas dari Bali yang cukup terkenal. Panganan ini juga digemari karena dagingnya yang sangat empuk, dan bumbunya yang meresap.

Tidak banyak orang tahu, jika dalam memasak makanan ini, ada teknik khusus yang membuat daging ayam dan bebek menjadi empuk. Rahasianya, dengan menggunakan tanduk rusa.

“Jadi tanduk rusa dimasukan ke dalam daun pisang yang membungkus daging bebek supaya dagingnya jadi empuk dan lembut,” ujar Chef Marinka.

Berikut ini resep memasak bebek betutu ala Bali. 

Bahan-bahan:
Bebek utuh 1 ekor, bersihkan (bisa juga menggunakan ayam)
150 g Daun bayam 
Daun pisang untuk membungkus

(Baca juga: 5 Kuliner Khas Indonesia yang Legendaris)


(Siapkan beberapa bumbu untuk memasak. Foto: Ilustrasi. Dok. Pratiksha Mohanty/Unsplash.com)

Bumbu yang dihaluskan:
10 buah Bawang merah 
6 siung Bawang putih 
15 buah Cabai rawit merah 
1 batang Serai 
3 cm Lengkuas kupas 
3 cm Kunyit kupas 
1  sdm Ketumbar
1 sdt Merica
5 butir Kemiri 
2 sdt Jintan 
3 buah cengkeh 
2 cm Kayu manis 
3 buah Kapulaga 
1/2 sdt Buah pala bubuk
1/2 sdt Terasi bakar
1 sdm Perasan jeruk nipis
3 sdm Minyak goreng 
Garam halus secukupnya
1 sdt Gula pasir 
2 sdm Air putih

Cara Membuat
1. Siapkan wajan untuk menumis kemudian masukan minyak goreng tunggu sampai panas.

2. Tumis bumbu yang telah dihaluskan sampai harum, angkat.

3. Gunakan separuh bumbu yang telah ditumis untuk melumuri ayam/bebek. Setengahnya lagi, gunakan untuk melumuri bayam. 

4. Masukan bayam yang sudah dilumuri bumbu ke dalam bebek/ayam, kemudian bungkus bebek dengan daun pisang (jika ingin empuk, warga Bali menambahkan potongan tanduk rusa). Diamkan selama 2 jam agar semua rempah masuk ke dalam daging. 

5. Kukus olahan bebek dengan menggunakan api kecil kurang lebih 60 menit. Setelah itu angkat, dan masukan ke dalam oven sampai matang. 

Dwi Ayu Rochani

(TIN)

Ini Tempat Uji Nyali dan Menenangkan Diri di Selandia Baru

Jakarta: Keindahan dari Selandia Baru memang tak terpungkiri lagi. Namun jangan salah karena negeri nan indah ini juga punya beberapa tempat berhantu dan cocok bagi Anda yang mencari andrenalin serta ingin beruji nyali.

Karena Halloween akan tiba sebentar lagi dan banyak orang yang sudah tidak sabar untuk menikmatinya dengan cara menyambangi tempat yang menyeramkan.

Tourism New Zealand memberikan 3 tempat di Selandia Baru yang dapat mencekam Anda dengan perasaan takut, sekaligus tempat untuk menenangkan diri setelahnya. 


(Bagi Anda yang berburu cerita seram, maka bersiaplah untuk melihat hantu Albert Liddy (jika Anda beruntung) – ia adalah arsitek yang menembak dirinya sendiri di teater pada tahun 1913 di The Opera House Wellington-Wellington. Foto: Courtesy of WellingtonNZ)

1. The Opera House Wellington-Wellington
Bangunan indah yang selesai dibangun pada tahun 1914 ini memiliki banyak fitur yang spektakuler, termasuk lengkungan proscenium, interior bangunan yang penuh dengan ukiran cantik, dan langit-langit berkubah.

Namun bagi Anda yang berburu cerita seram, maka bersiaplah untuk melihat hantu Albert Liddy – arsitek yang menembak dirinya sendiri di teater pada tahun 1913. Banyak yang mengatakan bahwa arwahnya masih berkeliaran di teater, sehingga jika beruntung, Anda mungkin bisa “bertemu” dengannya. 

Tips perjalanan: Ibu kota Selandia Baru ini memiliki berbagai sisi menarik untuk dijelajahi, mulai dari koleksi dan pameran di Museum New Zealand Te Papa Tongarewa hingga pemandangan menakjubkan dari puncak Gunung Victoria-yang dapat diakses dengan berjalan kaki atau naik bus. 

Wellington juga merupakan pusat industri film Selandia Baru, sehingga jangan lupa mengikuti tur “Wellywood” untuk mengunjungi berbagai lokasi syuting dan mampir ke Weta Workshop, studio desain yang mutakhir dan telah memproduksi berbagai film blockbuster seperti Blade Runner 2049.

Di sebelah barat kota Wellington terdapat Zealandia, hutan lindung yang menjadi rumah untuk sekitar 40 spesies burung asli Selandia Baru, termasuk burung tui dan Kiwi.

(Baca juga: Lima Cara Terbaik Mengelilingi Selandia Baru)


(Jika Anda beruntung, Anda bisa mendengar langkah kaki dan menjumpai pintu yang terbuka dan tertutup sendiri di Napier Prison, penjara yang juga merupakan unit kejiwaan ini. Foto: Courtesy of Backpackerguide)

2. Napier Prison-Hawke’s Bay
Napier Prison adalah penjara tertua di Selandia Baru yang dibangun pada tahun 1862 dan digunakan hingga tahun 1993. Kini Napier Prison telah dilestarikan keberadaannya dan menyediakan berbagai tur yang dirancang untuk menakuti para pengunjung dengan cerita empat hantu tahanan yang digantung.

Selain itu, ada juga yang mengatakan telah mendengar langkah kaki dan pintu yang terbuka dan tertutup sendiri di penjara yang juga merupakan unit kejiwaan ini. 

Tips perjalanan: Hawke’s Bay merupakan salah satu daerah penghasil wine terbaik di New Zealand dengan berbagai pantai yang indah.

Ketika berada di Napier, kunjungi Bluff Hill untuk menikmati pemandangan yang menakjubkan, serta Centennial Gardens untuk menikmati Marine Parade dengan berjalan kaki atau bersepeda. The National Aquarium of New Zealand juga sangat populer di semua kalangan usia. 


(Banyak yang mengatakan bahwa Kingseat merupakan rumah sakit jiwa yang sangat menyeramkan di Selandia Baru. Foto: Courtesy of Haunted Auckland)

3. Rumah Sakit Kingseat-Auckland
Rumah sakit jiwa paling terkenal di Selandia Baru, Kingseat dibuka pada tahun 1932 dan ditutup pada tahun 1999. Banyak yang mengatakan bahwa Kingseat merupakan rumah sakit jiwa yang sangat menyeramkan di Selandia Baru, di mana banyak staf dan pasien rumah sakit yang meninggal di tempat ini. 

Tidak heran apabila timbul pembicaraan bahwa terdapat fenomena gaib di Kingseat, seperti penampakan hantu yang dikenal sebagai “The Grey Nurse”.

Kini Kingseat merupakan lokasi untuk Spookers Haunted Attraction, sebuah acara hiburan di mana pengunjung dapat menelusuri bangunan dan pekarangan yang akan mengejutkan mereka.  

Tips perjalanan: Dari mengunjungi salah satu pulau indah di Hauraki Gulf hingga mendaki gunung berapi yang tidak aktif, Auckland menawarkan pengalaman yang tak terlupakan. Coba lakukan bungy jumping di Sky Tower dengan pemandangan kota yang spektakuler, nikmati wisata perahu dengan dasar kaca di Pulau Goat, serta makan, minum, dan belanja sepuasnya di kota Auckland.

(TIN)

MAG Festival 2018 Dimeriahkan Ragam Hiburan dan Olahraga

Jakarta: MAG Festival kembali digelar tahun ini. MAG Festival 2018 merupakan rangkaian kegiatan tahunan yang diadakan Mal Artha Gading, Jakarta Utara. Kegiatan yang dimulai pada 12-21 Oktober 2018 ini merupakan salah satu bentuk apresiasi kepada pengunjung setia, tenant, dan karyawan di Mal Artha Gading.

Kegiatan yang diadakan pada MAG Festival tahun ini, yaitu MAG Run, MAG Voice, MAG Futsal Cup, Yoyo Competition, Cheerleader Competition, Dance & Dance Cover Competition, Barista Competition, Barber Competition, Drone Competition, dan Pet Island.

MAG Festival 2018 dimulai dengan ajang MAG Voice. Kompetisi menyanyi yang rutin diselenggarakan oleh Mal Artha Gading ini menyaring lebih dari 100 kontestan yang dibagi berdasarkan kategori usia 6-12 tahun (Kids) dan 15-35 tahun (Adults). 

Para kontestan menunjukkan suara terbaik mereka di depan para juri, yakni Geraldine Sianturi, Nesia Ardi (Nonaria), Indra Aziz, dan Dikta (Yovie & Nuno). Babak audisi MAG Voice dilaksanakan pada 12 dan 14 Oktober 2018, serta Grand Final pada 21 Oktober 2018. 

Yang tidak kalah seru dari MAG Festival 2018 adalah kegiatan lari MAG Run 2018 yang akan diselenggarakan pada 14 Oktober. MAG RUN diikuti lebih dari 2 ribu orang dengan kategori umum dan anak – anak. Untuk kategori umum, peserta menempuh jarak lebih dari 5 km. Untuk kategori anak-anak, peserta dibagi menjadi dua kategori, yaitu usia 3-5 tahun menempuh jarak 1 km dan usia 6-8 tahun menempuh jarak 2 km.

Selain itu, ada juga Pet Island yang diadakan pada 14 Oktober-4 November 2018 di Atrium Millenium Lantai 1 Mal Artha Gading. Pet Island dibagi menjadi empat area yang memungkinkan anak-anak bermain dan belajar tentang hewan seperti kelinci, kura – kura, ular, marmut, kucing, hamster, dan burung kakatua. 

Untuk masuk ke area Pet Island dikenakan biaya masuk. Weekday Rp20 ribu per area, dan Rp60 ribu tiket terusan. Weekend Rp30 ribu, dan Rp90 ribu tiket terusan. 
(ROS)

Kipas Cantik Khas Bali di Indonesia Pavilion Terbuat dari Limbah

Bali: Mengunjungi Indonesia Pavilion yang dihadirkan Kementerian BUMN di Annual Meeting IMF -WB 2018, Nusa Dua Bali, membuat siapapun akan berdecak kagum. 

Pasalnya, di area pameran ini ada banyak stan UMKM Binaan Mitra BUMN yang menampilkan karya seni dan kerajinan tangan khas Indonesia yang begitu unik dan eksotik. 

Salah satu kerajinan tangan yang membuat pengunjung takjub adalah kipas khas Bali buatan UMKM milik AAA Mas Utari N SH (47). Bagaimana tidak, kipas yang didominasi warna-warna cerah seperti, hijau, biru, merah, oranye, pink, dan kuning ini memiliki ragam corak yang unik. 

Pengunjung juga pasti tak akan menyangka bahwa ragam kipas cantik yang dipajangnya di dinding bambu itu terbuat dari limbah. “Ya, kipas yang kami buat bahannya memang banyak memanfaatkan limbah, seperti kawat, kaleng bekas, oli pelumas dan sisa-sisa kain,” jelas Utari mengawali perbincangan. 


(Gung Mas menyulap kipas cantik dari bahan-bahan yang tak terpakai. Foto: Dok. Imagedynamics)

Dari limbah tersebut, perempuan yang akrab disapa Gung Mas ini menyulapnya menjadi kipas ramah lingkungan berbentuk kipas lebar. Ia yang dibantu oleh lebih dari 50 karyawan ini mengaku mampu memproduksi sekitar 300 kipas ramah lingkungan per hari. 

“Kipas ramah lingkungan ini, banyak disukai wisatawan lokal yang datang ke Bali untuk oleh-oleh,” imbuh perempuan ramah ini. Selain kipas ramah lingkungan, UMKM-nya juga memproduksi model kipas eksklusif, yaitu Kipas kayu berbahan kain Wastra dan kipas kayu lukisan. 

Untuk kipas kayu berbahan kain Wastra, kata Gung Mas, bisa memanfaatkan sisa kain kebaya, batik atau kain tradisional lainnya yang sudah tidak terpakai. 

“Bisa juga bahannya sesuai permintaan konsumen, karena ingin dipadankan dengan pakaiannya, dan itu biasanya kebaya,” terang perempuan kelahiran Bali itu. 

Untuk kipas kayu lukisan, lanjut Gung Mas, temanya sangat beragam, mulai dari tokoh-tokoh wayang, tari tradisional Bali, atau bentuk-bentuk lainnya yang khas Bali. 


(Untuk kipas kayu berbahan kain Wastra, kata Gung Mas, bisa memanfaatkan sisa kain kebaya, batik atau kain tradisional lainnya yang sudah tidak terpakai. Foto: Dok. Imagedynamics)

Jenis kipas ini diproduksi rata-rata 100 kipas per hari, karena membutuhkan waktu agak lama, mengingat dipengaruhi tingkat kerumitan dan feel dalam proses pembuatannya. 

(Baca juga: Alasan Mengapa Sebaiknya Tidak Menggunakan Kipas Angin Semalam Penuh)

Tak heran bila kipas lukis ini tampilannya eksklusif dan sangat diminati wisatawan luar negeri, termasuk tamu-tamu negara, seperti pengunjung Annual Meeting IMF – WB 2018 kali ini. 

“Kedutaan-kedutaan besar juga menyukai jenis kipas ini, karena ada identitas Balinya. Dan, selain turis asing, kolektor kipas juga suka jenis kipas ini, karena memang eksklusif,” jelas Gung Mas. 

Untuk harga kipas yang diproduksinya, Gung Mas mematok harga Rp15.000 hingga Rp2.000.000. “Termurah kipas ramah lingkungan, sedangkan harga termahal adalah kipas kain Wastra dan kipas lukisan yang bentuknya adalah kipas lipat,” ujarnya merinci. 

Kerja kerasnya untuk terus berinovasi membuat kipas etnik tak hanya disukai pasar dalam negeri, tetapi juga pasar luar negeri. Ini dibuktikan dari keberhasilan kipasnya yang telah di ekspor ke Filipina, Thailand, Inggris, Portugis, Perancis, Malaysia, dan Amerika Serikat. 


(Gung Mas sangat bangga bisa berpartisipasi di Indonesia Pavilion pada Annual Meeting IMF – WB 2018 dan banyak wisatawan tertarik untuk mencoba membuatnya. Foto: Dok. Imagedynamics)

“Terkadang setiap negara akan order dengan model yang berbeda-beda. Malaysia misalnya, banyak permintaan untuk wedding dengan ukuran 19, model kayu polos dan wastra polos. Kalau Prancis suka pakai renda dan bambu agar cost lebih murah, sedangkan Amerika dan Portugis sukanya kipas ramah lingkungan, tapi materialnya sutra. Biasanya kita ekspor 600 – 6.000 kipas per customer per bulan,” urai Gung Mas.

Respons positif dari pasar dalam negeri dan luar negeri inilah yang membuatnya semakin bersemangat untuk terus membesarkan UMKM-nya yang berhasil menyabet sederet penghargaan, salah satunya juara 1 Design Favorit Endek yang diserahkan langsung oleh Menteri BUMN, pada Denpasar Festival 2011. 

Oleh karena itu, Gung Mas sangat bangga bisa berpartisipasi di Indonesia Pavilion pada Annual Meeting IMF – WB 2018. Menurutnya, ini merupakan kesempatan emas untuk memamerkan kerajinan tangannya agar semakin dikenal luas. “Bagi saya Indonesia Pavilion merupakan sarana promosi yang efektif agar bisa menunjukkan keindahan Indonesia lewat kerajinan tangan agar semakin dikenal oleh masyarakat dunia,” tutup Gung Mas.

(TIN)